Complexity as part of your Design 26 Maret 2009
Posted by Firdaus in Complexity.1 comment so far
As wikipedia said : In general usage, complexity tends to be used to characterize something with many parts in intricate arrangement. In science there are at this time a number of approaches to characterizing complexity, many of which are reflected in this article. Seth Lloyd of M.I.T. writes that he once gave a presentation which set out 32 definitions of complexity.
Definitions are often tied to the concept of a ‘system’ – a set of parts or elements which have relationships among them differentiated from relationships with other elements outside the relational regime. Many definitions tend to postulate or assume that complexity expresses a condition of numerous elements in a system and numerous forms of relationships among the elements. At the same time, what is complex and what is simple is relative and changes with time.
Some definitions key on the question of the probability of encountering a given condition of a system once characteristics of the system are specified. Warren Weaver has posited that the complexity of a particular system is the degree of difficulty in predicting the properties of the system if the properties of the system’s parts are given. In Weaver’s view, complexity comes in two forms: disorganized complexity, and organized complexity. Weaver’s paper has influenced contemporary thinking about complexity.
The approaches which embody concepts of systems, multiple elements, multiple relational regimes, and state spaces might be summarized as implying that complexity arises from the number of distinguishable relational regimes (and their associated state spaces) in a defined system.
Some definitions relate to the algorithmic basis for the expression of a complex phenomenon or model or mathematical expression, as is later set out herein.
Tidakkah Kamu Perhatikan … 14 Maret 2009
Posted by Firdaus in Bahwa kita pernah menjadi 'dulu'.10 comments
Sesungguhnya bukan itu yang terjadi. Kalau saja memang memungkinkan, justru bukan masa lalu yang saya incar. Tapi masa lain dimana kita bisa melihat dari ketinggian yang dengan berada di atasnya, perjalanan atas waktu dari masa lalu menuju masa depan (sampai berakhirnya) bisa terlihat jelas. Sudah tersadari bahwa untuk berada di posisi tersebut tidaklah mungkin. Karena apa?, ya tentu saja karena Tuhan sudah mengambil posisi itu. Sebuah posisi mutlak yang jiwa dan raga saya (atas kehendak Tuhan pula) tidak dipersiapkan untuk mampu menahan beban itu. Jadi selain tidak sopan pada Sang Empunya Hidup ini, tapi juga kita tidak akan pernah mampu mengambil alih posisi itu.
Tidak sedikit dari kita (semoga saya tidak termasuk), yang seolah-olah tampil sebagai penjaga mercusuar lautan waktu. Senjatanya… ucapan menggoda.. “Saya .. .. (nama).. saya mampu bla..bla..bla.. ketik REG spasi NAMA ANDA spasi TANGGAL LAHIR ANDA, maka saya akan.. bla..bla..bla.. kirim ke rekening bank saya.. maap maksudnya, XXXX (nomor hotline)”. Secara tersirat, sesungguhnya seorang kawan (yang namanya enggan disebutkan) pernah menasehatkan supaya ‘membiarkan’ perilaku semacam ini. Karena, pun saya sadari bahwa suara se-menggelegar apapun belum tentu mampu sampai ke telinga mereka. Atau jika memang sampai ke telinganya, ternyata orang-orang ini juga sama seperti kita yang punya dua telinga dan percaya pula pada istilah umum “masuk telinga kiri keluar telinga kanan”. Walaupun, keponakan saya yang masih duduk di bangku SMP sekalipun tahu bahwa tidak ada jalan pintas dari telinga kiri ke telinga kanan.
Lalu apa sebenarnya yang menjadikan hal-hal ini terjadi?. Jika mencoba ilmiah, kata-kata seseorang* telah menginspirasi saya untuk menjadikan tulisan ini sebagai sebuah (gagasan) jawaban untuk mereka yang merasa telah mampu berada di atas dilatasi waktu. Tapi sayang gagasan beliau* terlalu berat dan rumit jika harus saya rumuskan dalam waktu lima atau sepuluh menit dari sekarang. Jadi mungkin sebagai pengantar (itupun jika masih ada waktu untuk saya), cukup saya sampaikan cuplikan perkataan berikut (tidak tepat kata per kata, tapi saya berusaha se-sesuai mungkin) :
Anggap seekor semut yang berjalan di dinding (atau lantai supaya lebih mudah membayangkan) rumah adalah berdimensi dua, artinya ia hanya memiliki sudut pandang dua dimensi (yaitu kanan-kiri-depan-belakang). Kemudian kita letakkan ujung jari telunjuk kita (dari arah atas semut) di jalur yang akan dilalui semut itu, maka apa yang terjadi.. Ya, semut itu hanya akan terheran-heran karena “tiba-tiba” dihadapannya muncul sebuah garis yang datangnya dari “arah” yang tidak ia ketahui (ingat bahwa kita anggap semut tadi tidak bisa mendongak ke atas). Kemudian semut ini akan mengatakan bahwa “garis” (yang sebenarnya adalah tangan kita) muncul dari alam ghaib. Artinya, ada satu dimensi lain yang tidak semut ketahui, tapi kita ketahui.
Cukup saja dulu, karena semakin banyak kata yang saya kutip akan semakin banyak pula kesalahan yang saya buat. Jadi, setidaknya sampai disini kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Dia Yang Maha Besar, menciptakan ‘hidup’ ini dengan segala ketelitian yang berada jauh diatas dimensi yang kita punya sekarang. Jadi bukankah benar bahwa diatas bumi kita ini, masih ada langit. Diatas langit itu, masih ada langit. Dan begitu seterusnya. Jika si semut tadi menyimpulkan bahwa kita adalah makhluk ghaib, maka bukankah tidak mungkin kesimpulan itu juga berlaku untuk kita.
Bahkan Dia sudah terlalu baik memberi kita banyak contoh (salah satunya semut yang tidak tahu apa-apa itu tadi) untuk memahami sesuatu. Mungkin itu sebabnya Ia banyak menanyakan .. Tidakkah kamu Perhatikan…. ?
Ditulis sebagai nasehat untuk diri saya sendiri. dan yang menginginkan.
* : Santoso, Budi (2009, April 14). Course Lecture (Statistical Physics).
Universitas Nasional. Jakarta, ID
Sampaikan Sesuatu Dengan Bahasa Yang Mudah 20 Februari 2009
Posted by Firdaus in Blogging dan Jogging, Ceuk Urang Ieu Mah....27 comments
Karena saya sadar bahwa terkadang, untuk menyampaikan dengan bahasa yang MUDAH adalah SULIT. Justru bukan sebuah kelebihan karena bisa berbicara dengan bahasa “njelimet (-kusut)”. Meski sebagai pengecualian memang terdapat hal-hal tertentu yang tidak dapat dipungkiri bahwa mencoba mengerti (walau dengan bahasa yang mudah) tetap saja sulit. Jika itu yang terjadi, maka mungkin yang terbaik adalah bercermin pada ketetapan “Bahwa Kita Pernah Menjadi ‘Dulu’“
Jika saja Makhluk Luar Angkasa (Yang sering di’muncul’kan berwarna hijau itu) benar-benar ada, saya adalah orang pertama, jika diijinkan oleh pihak intelejen tentunya, yang akan menghadapinya dan berkata “Bro… Kalau sulit bicara dengan manusia bumi, mungkin sebaiknya Ente pulang kampung saja” Atau saran ‘ilmiah’ saya adalah dengan berkata, “Bro… Coba Ente pergi ke laut selatan selandia baru yang disana banyak (ikan) pausnya. Dia lebih bisa mengerti bahasa Ente daripada saya“. Karena memang, (ikan.. saya terus pakai tanda dalam kurung karena paus bukan ikan) Paus adalah satu-satunya hewan yang siap menerima bahasa ter-enkripsi pada digit dengan orde lebih dari pangkat 12, bahkan lebih baik dari lumba-luma atau simpanse sekalipun. Untuk itulah saya suruh tamu-tamu antar-jagad kita ini untuk kesana, dan “ngobrol” sepuasnya dengan (ikan) paus dan kita tidak perlu repot-repot untuk mengerti.
Tapi.., Adalah sebuah kebenaran pula bahwa tidak setiap apa yang disampaikan oleh seseorang harus bisa dimengerti. Tidak selamanya kita mengerti pelajaran dari bapak/ibu guru. Justru dengan itulah proses pembelajaran dimulai. Proses pertumbuhan kefahaman kita atas sesuatu bisa terlatih. Jadi, jika suatu waktu kesulitan untuk mengerti itu tiba, maka berbahagialah karena pada saat itu, waktu telah mengajari kita tentang ‘kesabaran’. Bukankah kesabaran adalah mulia. Kita semua harus mengangguk setuju. Tidak perlu repot-repot mengurai perbedaan antara ’sabar’ dan ‘mengalah’. Kalaupun itu disebut ‘mengalah’ maka,… bersabarlah.
Contoh sederhana, sudah didepan mata saya dan kawan-kawan. Bagaimana bisa kotak navigasi (navbar) bawaan blogger yang sebelumnya saya hilangkan justru sekarang saya buat sendiri. Tentunya dengan ‘Dunia’ ini sebagai inspirasinya. Layanan yang sedang ‘rame-ramenya’ facebook (terutama). Kemudian digg dengan kombinasi ‘aneh’ hijau dan birunya tapi tetap menarik. Navigation-Bar milik facebook itu saya “JIPLAK” dengan berkali percobaan sebelum akhirnya bisa muncul seperti diatas. Tapi tentu.. Kesempurnaan hanya milik… Tuhan. Sayangnya, saya tidaklah pandai mengemasnya dalam bentuk tutorial sebaik kang jaloe atau mas mochal. Tapi setidaknya, jika-pun tertarik, bisa di-comot saja dari source-code halaman ini. Saran saya gunakan add-on firebug jika menggunakan Si Rubah paling liar (firefox) Atau jika menggunakan browser Apple safari maka bisa langsung dilihat dari Toolbar “Develop”.
Eits.. Bicara Apple, Sesuatu harus saya sampaikan pada Pemilik Hak Paten Logo Apple yang telah dengan semena-mena saya gunakan untuk signature baru saya. Jika (yang berwenang terhadap ini) mengerti Bahasa Indonesia, saya akan sampaikan “Terima kasih telah membuat logo Apple ini mirip dengan huruf ‘a‘. Sekali lagi terima kasih”. Tapi ini bukan semata-mata “jasa dan budi baik” Apple. Tapi seperti telah saya sebutkan sebelumnya, Inspirasi datang dari mana saja.., untuk itu saya sebut secara global saja dengan nama “dunia”. Itu berarti bisa jadi salah satu dari kawan-kawan juga termasuk didalam “dunia” yang menjadi inspirasi itu.
Lihat bagaimana Sony Ericsson mengucapkan “I Love Music” (Atau mungkin seharusnya dibaca “I SonyEricsson Music”, kata seorang kawan saya) Ya. SKOTOMA, “Pendapat kita tentang simbol atau bentuk yang telah tertanam di kepala sebelumnya begitu kuat sehingga pikiran kita mengesampingkan apa yang sebenarnya dilihat oleh mata kita”. Mengandalkan Skotoma masing-masing kita, saya anggap (dengan paksa) bahwa logo Apple yang saya pergunakan ini adalah huruf “a”.
Ya. SKOTOMA, “Pendapat kita tentang simbol atau bentuk yang telah tertanam di kepala sebelumnya begitu kuat sehingga pikiran kita mengesampingkan apa yang sebenarnya dilihat oleh mata kita“
Belum lagi begitu “indah”nya perubahan yang terjadi hanya dengan mengubah sedikit kode CSS (style) dari tatanan halaman HTML. Tidak ada yang berubah dari widget “sidebox” (saya menyebutnya dengan sidebox) selain sebagian kecil script CSS-nya. Tapi perubahan yang mata kita terima (mata saya terutama
) begitu ‘menggiurkan’. Saya baru mengerti kenapa warna merah muda (pink) selalu diidentikkan dengan ke-perempuanan (feminin). Tapi tidak perlu saya ‘umbar’ disini. Cukup tersirat saja jika kawan-kawan mengerti. Yang pasti sebelum perubahan ini, jujur saja tangan saya tidak terlalu segembira ini untuk ‘menyentuh’ (tombol) navigasi di kotak ini. Komentar Tentang sulitnya navigasi menuju tulisan-tulisan lain di blog ini yang pernah mas Nias sampaikan cukup membangkitkan semangat saya untuk segera berbenah. Untuk itulah saya sediakan “Content List” di SideBox ini, dengan harapan ’sedikit’ menyerupai “Daftar Isi” Sekaligus “Arsip Blog”.
Tapi mungkin ini yang paling penting dan ‘menggemaskan’. Munculnya satu kolom baru di sidebar paling kanan saya yang bernada ‘minta-minta’, berkedok ‘donasi’ ala kadarnya. Semoga kawan-kawan tidak terlalu sakit hati, walaupun sakit hati juga tidak pernah dilarang (Bedakan dengan “Penyakit Hati”). Kotak sialan itu muncul akibat gagayaaan (… ehm, terjemahannya apa ya) sekedar bersolek karena baru punya akun ‘PayPal’ (Yak… silahkan tertawa selama 2,5 menit). Jadi saya mohon maaf. Saran saya.. Jauhi kotak itu dan fokus saja pada tujuan kawan-kawan datang kemari. Jangan terjebak dengan ‘kata-kata’ yang bertebaran disekitarnya. Saat ini, tidak mudah kita menemukan Orang yang masih Baik Hati dan mengasihi sesama
Terlebih, jika kawan-kawan ‘dihantui’ seseorang yang tertawa puas seperti ini. Sedang nikmat terbawa semilir angin CSS, tiba-tiba kerusuhan itu terjadi. Meski tidak berlangsung lama (Untuk yang merasa, dilarang tersinggung). Selain itu, juga terdapat perbaikan-perbaikan kecil disana-sini. Dan tentu saja tidak lupa saya sempatkan melakukan pemutakhiran (update) Daftar Blog Do Follow yang saya susun. Tak henti-hentinya lantunan maaf saya sampaikan jika terlalu lama harus menanti Blognya terdaftar. Sekedar mengingatkan, bahwa Masuk kedalam daftar ini bukan segalanya, yang penting keinginan dan kesiapan untuk berbagi, itu yang lebih penting. Baca lagi apa yang saudara saya, gus, pernah sampaikan mengenai ini. Tapi sudahlah, itu bukan masalah. Sempat kecewa juga karena terlalu banyak Dummy Blog yang ingin terdaftar. Tapi itupun tetap saya lakukan, mengingat saya memang tidak pernah melarang dan malah takut jika sampai berbuat lebih dari itu seperti ucap kawan kita, riasmaja.
Mengingat semua hal diatas, terutama mengenai kustomisasi yang saya lakukan terhadap template ini (untuk Blogger), maka saya berkeinginan untuk Menjual Blog Ini seharga Rp.22.750.500,- (Dua Puluh Dua Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Lima Ratus Rupiah), dan maaf, tidak bisa ditawar.
Tapi sayang, keinginan itu terlanjur hilang seketika teringat rincian dibawah ini.
- Untuk Se7en Pembuat Template Blog ini : Rp.2.530.000,-
- Untuk Kawan-kawan yang Link menuju Blognya terdapat di Kolom “Beruntunglah Kalian Ada Disini” : Total Rp. 7.470.500,-
- Untuk “7 Orang Paling Rajin” : Rp. 2.750.000,-
- Untuk Kawan-kawan yang selalu mengungkapkan apresiasinya dalam komentar : Total Rp. 15.430.000,-
- Untuk… stop.
Sampai disini Juga saya sudah rugi sebesar Rp. 5.430.000,-
Ternyata ada juga ya.. Transaksi Penjualan yang malah menyebabkan kita berhutang. (Boleh tertawa.. boleh tidak, tapi jelas ini tidak serius). Satu lagi, tentu masih ada yang harganya, tidak mungkin terbayar walau dengan Mata Uang Manapun (kecuali mungkin mata uang Makhluk Luar Angkasa kita tadi), Keinginan untuk selalu… menjadi bermanfaat untuk siapapun.
Dan Akhirnya.. Yup, Mungkin begitulah caranya untuk.. menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang Mudah. Terimakasih Saudara, Kawan, dan Sahabat saya.
Aku Tunduk Pada Kesempurnaan-Nya.
Barack Obama Bukan Presiden Dunia 24 Januari 2009
Posted by Firdaus in Blogging dan Jogging, Ceuk Urang Ieu Mah....32 comments
Bukanlah mutlak sebuah kesalahan jika memberikan sedikitnya harapan di pundak seseorang yang ‘tampaknya’ mempunyai kemampuan besar mewujudkan harapan tersebut. Tapi juga bukanlah sikap besar sebuah bangsa yang tidak sedikit kali mengaku sebagai bangsa besar jika semata-mata menempatkan porsi harapan sebesar itu pada sesuatu yang jelas-jelas bukan pengaruh utama dalam sistem yang sampai saat ini dipercaya sebagai sitem tatanan kebangsaan. Mudah saja, bangsa itu adalah kita, sekumpulan manusia cerdas yang mengaku diri bernama Indonesia. Mengapa cerdas? Mengapa kita?. Tidakkah kita sudah sedemikian cerdas sampai-sampai telah mampu ‘mendirikan’ replika parodi terhadap dirinya sendiri. Tidakkah kita sudah sedemikian hebat dengan meng-klaim diri sebagai ‘most advance democratic nation’?. Sampai disini, jawabannya adalah “ya”.
Pada awalnya, sudah sepenuh saya usahakan, bahwa menggantungkan sedikit harapan pada ‘sang presiden’ sepertinya memang masuk akal dan diperlukan –mengingat betapa sebuah negara semacam amerika serikat adalah satu dari sekian yang punya pengaruh besar terhadap apa-apa yang akan menjadi kebijakan dunia yang kitapun berada di dalamnya. Tapi, sayang, ketika bentuk terbesar mimpi yang tiba-tiba menjadi kenyataan itu malah semakin menunjukkan betapa jawaban “ya” yang semula begitu mantap kemudian terulang lagi seperti persoalan lain yang menjungkir-balikkan kemantapan itu menjadi kemantapan lain yaitu “sama sekali tidak”.
Barack Hussein Obama, mungkin sekali –seperti menggugah sisi emosial kebangsaan kita. Bagaimanapun perasaan ‘dekat’ dengan kita (Indonesia) adalah sebuah kewajaran. Akan tetapi akan sangat berlebihan jika perasaan ‘dekat’ itu kemudian meledak-ledak dan sedikit demi sedikit melepaskan kulit kebesaran bangsa itu sendiri. Mungkin jika kawan-kawan masih ingat apa yang ada pada sekedar mengingat apostrophe, tersirat ingin saya sampaikan bahwa betapa sebuah media, selalu punya banyak tempat di kepala masing-masing kita. Sudahlah terlalu matang, kita, untuk membedakan mana yang baik, atau buruk . Lagi, saya kutipkan kurang lebihnya sepenggal kata yang diberitakan beberapa jam sebelum dilantiknya sang presiden ini.
Beberapa jam lagi Obama akan dilantik menjadi presiden Amerika Serikat ke-44, yang sekaligus menjadi pemimpin dunia…
Kesan pertama, oleh saya, adalah “ya, tentu saja, stasiun tv ini terlalu sering membuat sinetron daripada belajar menyusun kalimat-kalimat berita”. Tapi kemudian beberapa saat setelah itu muncul kesadaran lain bahwa mungkin jurnalis seperti Gus dan kawan-kawan lain lah yang akan lebih mampu menohok mereka dibanding saya. Berita-berita yang masuk ke telinga kita akan dengan serta-merta menjadi referensi mutlak, terlagi jika muncul dari televisi. “Pemimpin Dunia” bukanlah kata yang tepat. Kita tidaklah hidup untuk memanjakan diri terbiasa dengan membiarkan mimpi. Dia bukan siapa-siapa untuk kita. Benar bahwa dia istimewa karena mampu menembus tembok rasial untuk singgasana sebesar Presiden Amerika Serikat. Benar dia ‘menjanjikan’ karena beberapa terobosan kebijakannya. Tapi dengan pernah hidup di Indonesia untuk segelintir waktu, tidaklah menjadikan dia begitu istimewa untuk kita.
Akan sangat mengenaskan (setidaknya oleh saya) jika disaat yang bersamaan, keponakan saya –dengan menonton berita, malah lebih hafal di Jakarta bagian mana Obama pernah dibesarkan dibanding di Pacitan bagian mana Presiden negaranya sendiri pernah dibesarkan. Pertanyaan besar terakhir saya adalah, “akan sampai dimana, mereka –pemilik otoritas media, akan terus menciptakan mimpi untuk mimpi”.
Hak cipta gambar “Dare To Dream” ada pada www.stephenaitken.com
Kalau Boleh Dianggap Cermin Kedua : Desain 20 Agustus 2008
Posted by Firdaus in Desain, Konsorsium.45 comments
Apa jadinya, jika dua cermin dihadapkan satu sama lain? Ya, tentu akan menghasilkan bayangan sebanyak “tak hingga”. Itulah harapan kita, menghadapkan cermin pertama (posting yang telah lalu) pada tulisan kali ini yang kita akan anggap sebagai cermin kedua. Supaya apa?, supaya kemudian akan mencipta imajinasi sebesar “tak hingga”, utamanya dalam perkara desain layout blog.
Lagi-lagi sebagai pengingat. Prosentase hasil survey dibawah adalah hasil survey Smashingmagazine.com -yang sayangnya saat ini, blog tersebut sedang tidak bisa diakses, entah apa sebabnya. Paralel dengan ulasan Smashing Magazine, tulisan ini juga merupakan bagian kedua dari rangkuman survei terhadap 50 technorati top blog. Maka dari itu, kembali saya ingatkan, bahwa rentetan angka-angka prosentase di bawah, sama sekali bukanlah merujuk pada garis-garis besar efisiensi layout sebuah blog. Tapi lebih kepada tinjauan statistik semata, bagaimana seorang penulis atau desainer blog (yang ‘dianggap’ popular oleh technorati) mengemas desain layout blognya.
Tidak perlu mempersulit diri dengan bersusah payah “menyamakan diri” dengan mereka. Anggap saja selera kita dan mereka berbeda. Itu saja. Akan tetapi alangkah baiknya jika datang seorang kawan ke ‘rumah’ kita, hidangkan apa yang terbaik yang kita miliki. Semoga membantu kawan-kawan meramu ‘hidangan terbaik’. Tapi selalu dan selalu saya ingin hendaknya kawan-kawan bersabar, karena “belajar tidak pernah mudah”. Posting yang lalu terbilang panjang, maka posting kali ini… akan lebih panjang. Semoga bersabar.
Setelah pada pembicaraan yang telah lalu kita berbicara seputar Layout dan Tipografi sebuah desain blog. Maka kali ini kita akan melanjutkan pada pokok berikutnya yaitu Struktur, Penempatan Iklan, dan Fungsionalitas sebuah desain.
3. Struktur
Seperti halnya sebuah bangunan, tentu kita tidak akan semena-mena menjadikan langit-langit rumah sebagai lantai, atau menjadikan Garasi sebagai kamar mandi. Lebih kepada susunan arsitektural.
3.1. Letak menu navigasi
Seperti yang tertulis di smasingmagazine.com, memang benar adanya bahwa beberapa tahun yang lalu, seperti ada semacam peraturan tak tertulis dari banyar desainer situs yang meletak menu navigasi situsnya di bagian kiri layoutnya. Ternyata yang terjadi saat ini adalah seperti ini.
- 58% meletakkan menu navigasi (vertikal) di bagian kanan layout,
(Scobleizer, TPM, CrunchGear, Neatorama, Google Blog, DailyKos, Engadget),- 52% meletakkan menu navigasi (horizontal) di bagian atas layout,
(A List Apart, Google Blogoscoped, Dooce, GigaOM, TreeHugger, Smashing Magazine, Mashable, ReadWriteWeb, Ars Technica, TechCrunch, Huffington Post),- 12% meletakkan menu navigasi (vertikal) di bagian sebelah kiri layout.
Mungkin ini salah satu contoh penempatan, dan desain yang cukup baik-setidaknya menurut saya. Selain cukup besar ukuran “TAB”nya, penggunaan warna (saat mouse hover diatas tab tersebut) yang kontras dengan warna sekitar, akan menarik mata. Tidak setuju dengan saya?, dipersilahkan, tapi sambangi dulu blog kang jaloe, baru kemudian kawan-kawan boleh menilai.
Bagaimanapun juga, yang jadi nilai utama (bagi saya) adalah kemudahan pembaca menjangkau menu tersebut. Saya kira inilah yang terpenting. Sebagai contoh buruk adalah Blog saya ini. Sampai saat ini juga masih saya pikirkan bagaimana solusi terbaiknya. Ada yang mau membantu? :p
3.2. Jumlah posting pada halaman utama
Mungkin langsung saja, karena sangat mudah dimengerti. Tapi sebagai tambahan supaya diingat, bahwa “semakin banyak jumlah posting pada halaman utama, akan semakin memperlama waktu loading halaman situs/blog kita”.
- 28% 14 – 18 posting pada halaman utama
(Tuaw, Slashfilm, Gizmodo, TMZ, Lifehacker, ArsTechnica),- 26% 10 – 12 posting pada halaman utama
(ProBlogger, TechCrunch, Dooce, ReadWriteWeb, CrunchGear),- 14% 20-26 posting pada halaman utama
(ValleyWag, Seth Godin, Search Engine Land),- 10% 2 – 6 posting pada halaman utama
(A List Apart, Smashing Magazine, CopyBlogger),- 10% 27 – 35 posting pada halaman utama
(Kottke, Boing Boing, ThinkProgress, Neatorama),- 8% 7 – 9 posting pada halaman utama
(GigaOM, Mashable, TreeHugger),- 2% 36+ posting pada halaman utama
(Andre Sullivan, 50 posts).
Cukup.. janggal karena pernah pula saya coba mengeluarkan 15 posting di halaman utama dan hasilnya, seperti menunggu bis damri yang kesulitan keluar dari terminal. Tapi mungkin, yang patut digaris bawahi adalah, pertimbangan atas kemampuan loading server. Permasalahannya, untuk Blog yang cuma “membonceng” server Google, saya rasa keterbatasan itu bisa disikapi dengan tidak terlalu banyak menjejalkan posting yang terlalu banyak di halaman utama. Tentu tidak seluruh isi tulisan yang ditampilkan, melainkan excerpt atau abstraksi saja, yang jika menggunakan blogger, maka penggunaan “readmore” bisa menjadi alternatif yang baik.
3.3. Widget “related post” atau “popular post”
Sejauh saya bisa menilai, untuk blogger di Indonesia, malah kebanyakan memasang keduanya, baik Widget Related post maupun Popular post. Ya, saya juga sadari bahwa keduanya sama-sama membantu pembaca menemukan tulisan lain. Hasil yang diperoleh survei juga cukup berimbang “pendukungnya” karena memang sekali lagi, keduanya sama pentingnya.
- 54% dari top blog menampilkan “Related Post” (GigaOM, CopyBlogger, ProBlogger, ReadWriteWeb, Mashable, Engadget, TreeHugger), Sisanya tidak menampilkan widget ini (Dooce, TechCrunch, BoingBoing).
- 48% top blog menampilkan “Popular Posts”. (Zen Habits, CopyBlogger, DailyKos, Mashable, ReadWriteWeb, Smashing Magazine and Huffington Post).
- Selain itu juga ada hasil lain yang didapati yaitu hanya 16% top blog yang memasang “Most Recent Comments” (ReadWriteWeb, BoingBoing, TreeHugger, TMZ, Tuaw).
3.4. Isi Footer pada Blog
Saya tidak melihat dominasi isi tertentu untuk footer pada top blog ini. Memang pada umumnya footer adalah tempat untuk meletakkan Informasi yang lebih bersifat “administratif” semacam ‘credits’, alamat e-mail dan sebagainya. Tapi sebenarnya masih cukup besar opsi yang diberikan footer, cukup banyak yang bisa kita letakkan disana. Sebagai bahan pertimbangan saya bawakan apa yang bisa kita dapati di blog mas fatih ini. Footer yang sarat informasi tentunya akan menjadi nilai tambah. Selain itu juga akan menjadi bagian dari desain blog secara keseluruhan.
- Copyright, legal, privacy, terms of service, terms of use (90%),
- link menuju halaman “about us” atau “about me” (40%)
(GigaOM, TMZ, ProBlogger, ReadWriteWeb, Ars Technica),- link menuju halaman advertising (38%)
(Slashfilm, Dooce, GigaOM, ReadWriteWeb, Gizmodo).- link menuju informasi “contact-perosn” (30%)
(Kottke, GigaOM, ReadWriteWeb, ProBlogger),- link untuk RSS-feeds blog tersebut, atau blog lain yang berhubungan (22%)
(Slashfilm, Ars Technica, BoingBoing),
4. Penempatan Iklan
Saya kira ini yang patut jadi perhatian. Karena bagaimanapun, kita semua sering tersadarkan bahwa “Iklan lebih sering mengganggu ketimbang mendukung desain, karena kita memang tdak bisa berbuat banyak terhadap isi iklan tersebut”. Tapi berhubung membuat blog manjadi lahan bisnis, tidak lagi dapat terbendung, maka sekiranya akan sangat baik jika kita pun memperhatikan peletakkannya. Atau setidaknya mengatur sedemikian rupa yang malah akan membuat pembaca kita semakin tertarik untuk melirik bahkan mendatangi iklan yang kita suguhkan.
4.1. Jumlah iklan per halaman
- rata-rata 5,84 blok iklan untuk halaman utama
(Mashable has most ads (20), TechCrunch wins the second place (15)),- rata-rata 5,96 blok iklan pada halaman artikel,
- 68% blog menggunakan layanan Google AdSense
(Kecuali : Kottke, Scoble, Joystiq, Tuaw, CopyBlogger, Valleywag, GigaOM),
Jumlah blok iklan pada halaman utama dan halaman artikel mendekati nilai yang sama. Hal ini sering terjadi mengingat kebanyakan Blogger atau web desainer harus menempatkan iklan berbentuk teks pada bagian isi posting juga. Berapapun itu, semua tergantung kawan-kawan. Jumlah iklan yang banyak per halaman tidak menjamin bisnis iklan kawan-kawan berjalan baik. Mungkin saja, tapi tidak selalu. Terlalu banyak iklan hanya akan membuat pembaca blog kita enggan singgah.
Sama halnya ketika dulu saya sering mengantar ibu saya ke pasar, atau supermarket misalnya. Akan sangat mengesalkan, jika harus menghadapi penjual yang terlalu ngotot menawarkan dagangannya. Saya sadar memang itu pekerjaannya. Tapi saya selalu teringat dulu ketika kakak saya sempat bekerja sebagai sales, ibu saya menitipkan sebuah pesan kepadanya “Berusaha semampunya dan sewajarnya saja ya, Rezeki sudah ada yang mengatur.” Ada atau tidaknya korelasi cerita saya dan bisnis iklan kawan-kawan, rasanya saya kembalikan pada kawan-kawan saja.
4.2. Apakah iklan juga terdapat pada area isi tulisan?
Tujuannya, tentu sudah kawan-kawan mengerti. Terutama yang juga meletakkan iklan didalam area tulisannya.Hanya saran saya, pastikan konsentrasi pembaca tidak terganggu akibat iklan terebut. Itu pun jika saran saya diterima. Jika pun tidak, tidak apa-apa.
- 76% tidak menempatkan iklan di dalam (tengah) artikel (tapi pada bagian sebelum atau sesudah area artikel, lihat hasil setelah ini)
(Dooce, A List Apart, ReadWriteWeb, Mashable, TechCrunch, BoingBoing),- 44% menempatkan iklan dibawah artikel dan diatas kolom komentar
(ProBlogger, Zen Habits, Engadget, Smashing Magazine, Tuaw, CopyBlogger, GigaOM),- 18% menempatkan iklan di dalam (tengah) artikel
(Huffington Post, Yanko, PerezHilton, Slashfilm, Search Engine Land),- 6% menempatkan iklan tepat dibawah headline, sebelum area artikel
(Smashing Magazine, Neatorama, Yanko),
4.3. Letak iklan pada layout
Tentu untuk permasalahan letak iklan, sangat bergantung pada desain layout secara keseluruhan pada templates yang kawan-kawan gunakan. Jika memandang efisiensi, maka mungkin cara tebaik adalah dengan menempatkan iklan tersebar di tiap bagian. Tapi karena kita sedang bicara pada konteks desain, maka hasilnya bisa jadi berbeda. Supaya tidak terlalu lebar lingkup pembicaraan, maka survei yang dilakukan oleh smashing.com ini hanya membagi penempatan iklan secara global saja.
- terdapat iklan di bagian sebelah kanan layout (88%)
(GigaOM, CopyBlogger, Engadget, TechCrunch, Smashing Magazine),- terdapat iklan di bagian atas layout (42%),
(Gizmodo, Talking Points Memo, Autoblog, TreeHugger, TMZ, PerezHilton),- terdapat iklan di bagian kiri layout (34%)
(Lifehacker, Mashable, Gizmodo),- terdapat iklan di bagian bawah layout (24%),
(Andrew Sulivan, Tuaw, Wired).- Tanpa iklan (8%),
(Google Blog, Think Progress, Seth Godin).
Mungkin bisa diambil sebagai contoh adalah blog bang hakim yang menempatkan Luna Maya Iklan di bagian kanan layout blognya.
Kreatifitas kawan-kawan akan sangat diuji jika memang kita mengijinkan iklan berada di dalam blog kita. Bagaimanapun sudah sangat dimengerti bahwa memang sebagian besar dari pemilik blog saat ini, juga me-monetize blognya. Permasalahan teknis lain mungkin akan lebih baik jika kawan-kawan belajar pada seseorang yang memang sudah punya banyak pengalaman pada persoalan ini.
5. Fungsionalitas
Tentu dari empat poin yang sudah kita bicarakan, semuanya harus mengacu pada poin terakhir ini. Apakah kesemuanya membawa kita pada ujung yang berfungsi? Jika tidak, maka mungkin jalan lain yang harus ditempuh.
Sewajarnya sebuah blog, maka yang kita bicarakan tidak jauh dari penggunaan social button, RSS-Feed Button, Tag Cloud, Pagination atau Search Box. Untuk poin terakhir ini, akan langsung saya hamparkan hasil surveynya.
5.1. Social Button
- 54% top blog menempatkannya di bawah posting
(GigaOM, ProBlogger, Mashable, Ars Technica, BoingBoing, ReadWriteWeb),- 38% tidak menggunakan social button
(Dooce, Google Blogoscoped, Scobleizer, Political Ticker),- 8% menempatkannya di atas posting
(Smashing Magazine, TreeHugger, The Huffington Post).
Salah satu penempatan yang cukup apik ditunjukkan oleh Abi di blognya, Abibakarblog.com.
Memang terdapat beberapa yang menggabungkan atau meringkas seluruh layanan social-bookmarking menjadi satu dalam sebuah button, seperti Addthis. Akan tetapi, justru terkadang, dengan menampilkan langsung Ikon masing-masing layanan tersebut malah akan memberi sebuah aksen khusus dan unik.
5.2. RSS Button : Posisi dan Tampilan Visual
Adalah biasa ketika kita menemui RSS-Button yang diletakkan di bagian ‘Header’ Blog.
- 38% dari top blog menampilkan RSS-button di bagian ‘header’,
- 28% meletakkannya di bagian atas sidebar.
- 8% di bagian tengah sidebar,
- 14% di bagian bawah sidebar,
- 8% di bagian footer. Akan tetapi dari 8 % ini, kebanyakan RSS-Button di bagian footer-nya, hanya sebagai RSS-Button sekunder saja.
Bicara desain, maka tidak akan habis dalam satu malam saya kira. Banyak desain yang tersedia dan mungkin bebas digunakan juga, Ambil yang kawan-kawan suka dan sekiranya cocok dengan tema blog.
5.3. Tag Cloud
Salah satu yang sudah tidak asing lagi. Tapi cukup mengherankan.
- 90% dari top blog tidak menggunakan Tag Cloud. Melainkan hanya menampilkan menu navigasi biasa.
5.4. Pagination
Inilah yang membagi halaman menjadi multi-page. Contoh paling sering kita temui ada pada search engine Google. Di bagian bawah akan kita temui angka 1 – seterusnya, yang mewakili halaman yang siap ditampilkan. Tapi lagi-lagi, ternyata :
- Hanya 22% dari top blog yang menggunakan ‘pagination’
(among them are Dooce, GigaOM, Mashable, ReadWriteWeb).- 60% top blog menggunakan navigasi biasa seperti “Next” dan “Previous” saja, bukan dengan ‘pagination’. Yah, setidaknya khusus untuk hal ini, layout standar blogger sudah menyediakannya. :p
5.5. Letak Search-Box
- 62% dari top blogs menempatkan search-box di bagian atas kanan layout. 58% dari mereka menempatkannya di bagaian header, sisanya adalah di bagian atas sidebar.
- 16% diletakkan dibagian tengah sidebar
5.6. Letak Link Menuju Halaman ‘Kontak’
Agak kurang diperhatikan, karena mungkin sedikit terlindas oleh “ShoutBox” yang sekarang lebih banyak diminati (Sepengetahuan saya). Padahal, sekiranya meninggalkan pesan “personal” sering dilakukan. Mungkin menyediakan halaman kontak tersendiri akan terasa gunanya.
- 52% menempatkan link ini di sidebar
(Engadget, TMZ, DailyKos, Smashing Magazine),- 40% menempatkannya di Header
(A List Apart, Dooce, CopyBlogger, ProBlogger, Ars Technica, Tech Crunch),- 30% menempatkannya di Footer
(ReadWriteWeb, ProBlogger, Mashable, TMZ),- 4% diantaranya meletakkan link ini di halaman “About Us” atau “About Me”
(TreeHugger).
5.7. Standard-Conform kah?
Mungkin inilah yang dinamakan happy ending. Bagaimana tidak. Lihat saja hasil yang didapat.
- 96% top blog TIDAK standard-conform,
- 8% terdapat 500 error,
(Ben Smith’s Blog, Neatorama, Search Engine Land),- 28% terdapat 200 – 499 error,
(BoingBoing, ProBlogger, Google Blog, Engadget),- 24% terdapat 100 – 199 error,
(TreeHugger, Mashable, ReadWriteWeb, Gigazine, TUAW),- 22% terdapat 50 – 99 error,
(TechCrunch, CopyBlogger, Dooce, Ars Technica, Lifehacker),- 10% terdapat 1 – 49 error,
(Kottke, GigaOM, AutoBlog, Google Blogoscoped),- 4% terdapat 0 error.
Jadi, bisa disimpulkan dari 50 technorati top blog, hanya 2 blog saja yang tidak terdapat error pada badan programnya. Mungkin inilah satu2nya kesamaan blog saya ini. :p
Sebab utamanya adalah.. Ya IKLAN. Seringkali penyedia jasa layanan iklan tidak mempergunakan Syntax yang “valid”. Tapi sebagai contoh, tidak perlulah terlalu jauh ke penyedia layanan iklan. Blogger sendiri pun, masih mengijinkan syntax <b> digunakan untuk mempertebal font (pada kolom komentar misalnya) padahal kitapun tahu bahwa syntax tersebut tidak XHTML Valid, Yang valid adalah <strong>
Ah, Aya-aya wae.
Yup, selesai sudah. Bagi yang ingin bercermin dipersilahkan. Terimakasih sudah berkenan berada disini. Jika memang benar-benar membaca tulisan ini, mungkin pada titik ini kawan-kawan merasa lelah. Maka (lagi), pejamkan mata selama 2 menit untuk sekedar melepas lelah sejenak. Dan, selamat melanjutkan aktifitas kawan-kawan.